Nadira Farida Putri

Theres Always a Way Out for Those Clever Enough to Find It -Athena

ask.fm

Instagram

    Instagram

Twittter

vsco.co

    VSCO Grid

Fenomena Long Tail dalam Ekonomi

diposting oleh nfaridaputri-fisip13 pada 25 December 2014
di Prinsip Prinsip Ilmu Ekonomi (EKT205) - 0 komentar

Fenomena Long Tail dalam Ekonomi


            Fenomena long tail atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai “ekor panjang” merupakan sebuah fenomena dalam ekonomi yang berkembang pada tahun 2000-an. Perkembangan dari fenomena dalam kehidupan ekonomi tersebut diyakini berawal dari terbitnya sebuah buku pada tahun 2006 yang berjudul The Long Tail: Why the Future of Business Selling Less of More karya Chris Anderson. Melalui buku tersebut Chris Anderson membuka wawasan manusia akan masa depan dunia dengan gagasan utama mengenai pilihan yang tak terbatas akan menciptakan permintaan yang tak terbatas pula.

            Fenomena long tail sejatinya merupakan fenomena yang menggambarkan permintaan suatu produk melalui sebuah kurva. Dalam kurva bernama long tail tersebut terdapat dua area, yakni area pertama yang menunjukkan popularitas, dan area kedua yang menunjukkan omzet dari suatu produk. Melalui kurva tersebut Chris Anderson memandang kecenderungan bisnis pada saat ini menunjukkan bahwa semakin tinggi popularitas yang dimiliki oleh suatu produk maka akan semakin kecil omzetnya. Sedangkan apabila semakin rendah popularitas yang dimikili oleh suatu produk maka akan semakin besar omzetnya. Anderson juga menambahkan bahwa diawal penjualan suatu produk, nilai permintaannya akan sangat besar namun setelah beberapa waktu, permintaan dari produk tersebut akan mengalami penurunan. Namun meskipun produk tersebut mengalami penurunan dalam permintaannya, permintaan tersebut tidak akan pernah mencapai titik nol dan akan terus mengalami permintaan stabil yang meskipun sedikit tapi tidak pernah berhenti. Sehingga dapat dipahami bahwa permintaan sedikit yang stabil atas suatu barang tersebut, apabila diakumulasikan dalam waktu yang lama, akan menimbulkan volume yang signifikan, dan volume yang signifikan tersebut merupakan makna sesungguhnya dari suatu fenomena yang bernama long tail (Anderson, 2008). Penyebab dari fenomena long tail ini sendiri tidak lain adalah pengaruh dari pergeseran budaya yang diakibatkan oleh keberadaan internet. Keberadaan internet yang sangat luas dan dapat dijangkau oleh siapa saja menjadikan manusia modern tidak mau lagi “didikte” oleh media dan juga pasar, dan mencoba mencari seleranya sendiri, yang terkadang berujung pada gaya hidup anti-mainstream yang kemudian mempengaruhi tingkat permintaan. Gaya hidup anti-mainstream yang kemudian dapat mempengaruhi tingkat permintaan tersebut ada karena manusia yang dulunya menunjukkan sikap ingin menjadi senormalnya manusia, kini menunjukkan sikap yang ingin menjadikan dirinya sebagai seseorang yang spesial yang tidak terseret arus utama. Jika dulu manusia seolah dipaksa untuk menurut pada selera pasar, alias pasarlah yang mendikte, maka kini manusia tersebut yang bertindak sebagai konsumen berbalik menjadi penguasa atas pasar, atau dengan kata lain konsumen tersebut lah yang membentuk pasar. Setiap manusia dapat mengeksplorasi seleranya tepat seperti yang mereka inginkan. Jika dulu, notabennya pada jaman toko buku offline yang berhubungan dengan keterbasan ruang untuk display, maka buku-buku yang menjadi best seller yang mendominasi atau “menguasai” ruangan, sehingga manusia seakan “dipaksa” dan tidak punya pilihan. Namun kini ketika biaya penyimpanan melalui internet yang dihitung dalam bytes hampir nihil, ketersediaan akan penyimpanan menjadi berlimpah. Sehingga kemudian manusia disuguhi pilihan yang tak terbatas. Dan oleh karena melimpahnya pilihan tersebut, dbutuhkan lah suatu niche atau rekomendasi, yakni rekomendasi dari orang lain dengan kebutuhan dan kondisi yang sangat mirip dengan manusia tertentu (Anderson, 2008).

            Dalam pembelajaran mengenai ilmu ekonomi sendiri terdapat berbagai kurva yang masing-masing kurva menggambarkan fenomona-fenomena ekonomi yang berbeda. Satu kurva dengan yang lainnya pun dapat dibandingkan, begitu pula dengan kurva permintaan dari Alfred Marshall dan kurva permintaan dari Chris Anderson.  Kurva permintaan milik Alfred Marshall merupakan kurva yang menggambarkan hubungan yang ada di antara harga dengan jumlah barang yang diminta. Bentuk dari kurva ini pun sesuai dengan hukum permintaan yang menyatakan bahwa “jumlah barang yang diminta akan selalu berbanding terbalik dengan harganya” maka bentuk dari kurva permintaan milik Alfred Marshall ini akan berbentuk miring dari kiri atas ke kanan bawah atau bisa juga berbentuk miring dari kanan bawah ke kiri atas. Selain bentuk, kurva permintaan Alfred Marshall pun memungkinkan untuk terjadinya penggambaran permintaan yang berakhir di titik nol, berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan manusia itu sendiri seperti pendapatan atau penghasilan masyarakat, selera konsumen terhadap produk, harga produk lain yang berhubungan dengan produk yang dimaksud, dan lain-lain (Marshall, 1920). Sedikit berbeda dengan kurva permintaan yang dimiliki oleh Alfred Marshall, kurva permintaan milik Chris Anderson seperti yang sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya adalah kurva yang menggambarkan permintaan masyarakat akan suatu produk yang mana permintaannya tidak akan menyentuh titik nol. Kemudian, meski terdapat penurunan tingkat permintaan, seiring berjalannya waktu, apabila permintaan-permintan tersebut diakumulasikan maka bentuk yang akan muncul pada kurva adalah menyerupai ekor terjuntai dari titik tertinggi (dimana menunjukkan tingginya tingkat permintaan pada mula kemunculan produk) dan kemudian menurun dan akhirnya bergerak konstan yang tak-hingga tingkat permintaan tersebut dipengaruhi oleh tingkat popularitas (Anderson, 2008).

            Fenomena long tail dalam ekonomi dapat dengan mudah ditemukan pada kegiatan penjualan produk yang bergantung pada internet layaknya Amazon yang merupakan toko buku online dan juga iTunes yang merupakan toko hiburan online yang menjual berbagai konten seperti musik dan video. Dalam uraiannya Anderson mengatakan bahwa apabila dibandingkan dengann toko buku konvensional, Amazon mempunyai keunggulan dalam banyak hal. Penggambaran keunggulannya dapat dilihat dari sisi dimana Amazon tidak perlu rak buku yang banyak untuk keperluan pemajangan buku sebagaimana diperlukan oleh toko buku konvensional. Selain itu, toko buku konvensional cenderung menciptakan pasar hanya bagi beberapa buah buku saja, terlebih apabila penjualannya dianggap laku keras, maka buku yang laku keras terebut akan ditampilkan pada wadah-wadah display terdepan. Padahal, justru karena hal inilah sekian eksemplar buku lainnya bisa saja tidak terjual satu item pun. Namun hal demikian tidak terjadi di Amazon. Riset Anderson menunjukkan bahwa semua koleksi buku di Amazon mempunyai probabilitas terjual hingga 98 persen meski hanya sekali terjual dalam setahun. Sedangkan di toko buku konvensional, tidak hanya satu judul bahkan ratusan judul bisa tidak terjual dalam satu tahun meski satu item saja (Anderson, 2008). Sama halnya dengan perbandingan akan buku-buku yang dijual di toko buku konvensional dan Amazon, contoh lain dari fenomena long tail dapat ditunjukkan dengan penjualan konten hiburan seperti musik di toko musik konvensional dan juga iTunes. Di toko musik konvensional, jajaran CD yang terpampang di deretan utama atau terdepan dalam toko musik konvensional tersebut tentu berbagai CD yang menjadi aliran utama dalam pasar dan menjadikan CD milik musisi-musisi anti-mainstream tidak dapat berada di jajaran terdepan dalam suatu toko musik konvensional. Namun berbeda dengan iTunes, lagu-lagu yang diperjualkan di iTunes satu dan lainnya memiliki peluang yang sama untuk terjual karena manusia dapat mencari lagu yang sesuai dengan seleranya dan tidak lagi “dicekoki” oleh media dan pasar karena adanya niche market yang bergerak atas rekomendasi-rekomendasi. Kultur niche tersebut akan menata ulang tatanan sosial manusia. Manusia akan membentuk kembali kelompok berdasarkan minat yang tidak dipengaruhi lagi oleh kedekatan geografis serta kesamaan tempat kerja. Kalau dulu penduduk sebuah kota kecil dapat dipastikan membaca berita yang sama dari harian lokal yang sama, menonton acara televisi yang sama. Namun kini, setiap manusia bisa saja berada di ruang yang sama, namun sibuk dengan hal yang benar-benar berbeda.

Referensi


Anderson, Chris. (2008). The Long Tail: Why the Future of Business Selling Less of More. Hyperian eBook. [PDF].

Marshall, Alfred. (1920). Principle of Economics 8th Edition. London: Macmillan & Co.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :